Tampilkan postingan dengan label Tazkiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Januari 2018

Ikhlaskan Niat...

(Oleh: Dwi Surya Praja)

“Masya Allah...! Kayaknya ente dah gak pernah absen lagi nih dhuhanya...!!!” Sahut Egi seusai melihat Andre keluar dari musholah kampus. “Yaahhh... doain aje broo... mudah-mudahan si doi ngeliat dan ntar nerima lamaran ane... Hehehe...”. Kata Andre. “Astaghfirullah! Istighfar broo... Istighfaaarr, kita beramal tuh karena Allah, bukan karena doi atau orang lain...!!!”. Sela Raihan.
Sobat An-Nur yang berbahagia, sering kita mendengar kisah teman-teman yang katanya sih dia berubah dari perilaku buruk kepada perilaku yang terpuji atau yang biasa orang-orang menyebutnya dengan ber“hijrah”, tapi kok karena seseorang atau hal lainnya bukan karena Allah I. Ada bersedekah karena ingin dilihat orang lain lah, yang sholat malam demi si “doi” lah atau seperti kisah yang disebutkan di atas dan kisah senada yang lainnya.
Waaahh, kalau seperti itu niatnya untuk berubah bisa-bisa amalannya tidak di terima tuh. Bukannya pondasi agar diterimanya amal ibadah itu ada 2 sob? Pertama: Ikhlas karena Allah I semata. Lalu yang kedua: Sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Nabi kita, Muhammad .
Berbicara mengenai ikhlas dalam beramal, ada hadits yang berkenaan dengan ikhlas dalam beramal nih sob. Hadits ini diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah Al-Bukhari (yang biasa kita sebut sebagai Imam Bukhari) dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (Imam Muslim).
Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab t, Ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka pahalanya ialah hijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya maka ganjarannya sesuai dengan niatnya”.
Hadits ini adalah hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya. Hadits ini merupakan salah satu pokok penting ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berkata: “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu”. Begitu pula kata Imam Baihaqi beserta para Ulama yang lain. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat di dalam hati, ucapan dan tindakan.
Nah, sobat An-Nur yang berbahagia, ada beberapa faedah (pelajaran) dalam hadits ini, di antaranya:
1.      Hadits ini merupakan salah satu hadits tentang inti ajaran Islam, sebab kebanyakan Ulama berkata: “Inti ajaran Islam kembali kepada dua hadits: pertama hadits ini, dan kedua, hadits ‘Aisyah g dimana beliau bersabda: “Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini, yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak”.
Hadits yang pertama ini adalah rujukan serta timbangan amalan hati, sedangkan hadits dari ‘Aisyah g merupakan rujukan untuk amalan lahiriah.
Nah, sobat An-Nur yang berbahagia, kisah Andre yang kita sebutkan di atas merupakan perbuatan yang mana pelaku harus memperbaiki keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah I. Memang suatu hal yang terpuji apabila seseorang melaksanakan amalan-amalan sunnah akan tetapi sangat disayangkan jika ia melakukannya hanya karena ingin dilihat oleh orang lain. Dan hendaklah kita senantiasa memperbaiki serta memperbaharui niat kita dalam beramal, karena tidak menutup kemungkinan akan berubahnya niat yang tadinya shaleh lalu berubah disebabkan oleh satu atau dua hal. Dan karena hati dapat berubah haluan dalam hal dan kondisi yang tak tentu.
2.      Kita wajib menentukan niat bagi masing-masing ibadah, juga wajib membedakan antara ibadah dan muamalah, berdasarkan sabda Beliau r: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya”, seperti orang yang akan melaksanakan shalat Zhuhur, maka Ia harus berniat akan shalat Zhuhur, hingga bisa dibedakan dari yang lainnya. Sebab masing-masing shalat memiliki niat masing-masing.
Demikian beberapa faedah yang dapat kita ambil dari hadits Umar bin Khathab t di atas yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Hadits Arba’in dan pada hakikatnya masih ada beberapa faedah lain yang belum kita paparkan sobat.
Nah, sobat An-Nur yang berbahagia, telah kita ketahui urgensi niat dalam beribadah, maka dari itu marilah kita ikhlaskan seluruh ibadah kita kepada Allah I dan hendaklah kita selalu bertanya pada diri kita untuk siapa dan untuk apa kita berbuat sobat! Waallahu a’lam
Sumber: Syarh Arbain an Nawawiyah karangan Syaikh Al Utsaimin

Jumat, 18 Agustus 2017

Resep Praktis Hidup Bahagia

Penulis: Febri Frandikha
Siapa sich diantara kita yang tidak menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat? Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan. Karena pada dasarnya kebahagiaan adalah tujuan setiap makhluk yang bernyawa. Namun kesalahan banyak orang saat ini yang menganggap bahwa kebahagiaan itu terletak pada banyaknya harta. Mereka menggantungkan kebahagiaan mereka jauh tinggi di atas langit, sedangkan kedua kaki mereka tetap berpijak di atas bumi. Ada yang meletakkan kebahagiaannya jauh tinggi di atas bukit, namun ia tidak mau untuk mendaki. Dan ada pula yang menyimpan kebahagiaanya jauh tinggi di atas kanopi pucuk pohon, namun ia tidak punya tangga atau kemampuan untuk memanjat.
Padahal bahagia itu sederhana. Bisa kita letakkan di kedua tangan kita. Kemudian kita sendiri yang menentukan kapan kita bisa bahagia. Mungkinkah kita bisa bahagia setiap saat, kapanpun dan dimanapun kita berada? Lalu apa sich bahagia itu?
Ada yang mengatakan bahwa bahagia  akan diraih bilamana kita telah dapatkan apa yang kita mau dan hilang apa yang kita sedihkan. Argumen ini menimbulkan pertanyaan baru : “Apakah jika kita telah dapatkan dunia dan seisinya akan hilang apa yang kita sedihkan?” Maka jawabanya adalah “Tidak”. Akan semakin bertambah apa yang kita sedihkan dengan semakin bertambahnya apa yang telah kita dapat.” Lalu apakah itu?  “Rasa takut akan hilangnya apa yang telah kita dapatkan”.
Sobat, renungkanlah resep bahagia yang telah dipraktekan dan diajarkan Para Ahli Hikmah terdahulu. Mereka berkata: “Bahagia adalah bersyukur ketika mendapatkan kenikmatan, bersabar ketika ditimpa musibah dan beristighfar ketika berdosa.”  Dan begitu mengagumkan sebuah perkataan Syaikh Islam Ibnu Taimiyah : “Apa yang akan dilakukan musuh-musuhku kepadaku, sungguh syurga terletak di dalam dadaku”. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan sebagai seorang muslim kecuali hidup bahagia; dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun kondisi kita saat itu.
a.       Syukur
Ketika kita bersyukur bukan berarti kita dilarang untuk mencari nikmat Allah I yang lain yang tentunya lebih baik dari yang sebelumnya. Maksud dari syukur adalah kita menerima atas kenikmatan yang telah Allah I anugrahkan saat itu dengan hati, lisan dan perbuatan. Kemudian berikhtiar untuk mendapatkan hal yang lebih baik. Hal itu bisa kita gambarkan dari firman Allah I:
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim:7)
b.      Sabar
Sabar sangat identik sekali dengan musibah. Ketika seseorang ditimpa musibah,  kita selalu menggunakan kata sabar dalam menghadapi musibah tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa sabar dalam menghadapi musibah bisa meraih kebahagiaan atau bahkan kesyukuran yang pada dasarnya tidak bisa terlihat secara kasat mata. Hal itu bisa kita pahami dengan hikmah atau maksud dari Allah I memberikan musibah kepada para hambaNya. Musibah mendatangkan ampunan dari Allah I. Musibah juga mendekatkan hamba tersebut kepada Allah I. Berapa banyak orang yang jauh dari Allah I namun setelah musibah datang menyapanya, maka seakan tidak ada penghalang antara hamba tersebut terhadap Allah I.
Dalam menghadapi musibah pada dasarnya manusia terbagi menjadi empat. Ada yang kufur, sabar, ridho atau bersyukur. Perbedaan antara sabar dan ridho adalah, seorang yang sabar belum tentu menerima apa yang sedang menimpanya namun dengan kesungguhan hati ia mencoba untuk belajar ikhlas bahwa tidak ada musibah yang ditimpakan kepada seorang hamba kecuali hamba tersebut mampu untuk melampauinya. Ridho berarti hamba tersebut sudah ikhlas lagi menerima. Kemudian ia berusaha untuk mencapai kepada tahap syukur. Ketika seseorang sudah mencapai tahap syukur, maka ketika itu setidaknya ia telah mensyukuri dua hal. Ia bersyukur masih ada nikmat yang tersisa pada dirinya, kemudian Ia bersyukur karena musibah akan menghapus dosa-dosanya dan menumbuhkan benih-benih pahala disisi Allah I.
c.       Istighfar
Istighfar memiliki banyak sekali faidah; bahkan sampai kebatas hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Dalam Al-qur’an dan hadist Allah I dan Rasulnya saw. juga menyebutkan hal tersebut. Diantaranya adalah firman Allah I:
Maka (Nuh) katakan kepada mereka (Kaumnya): 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. Nooh: 10-12)
Istighfar juga merupakan salah satu sebab datangnya cinta dari Allah I. Bahkan istighfar melampaui segala kenikmatam lain. Sehingga bilamana Allah I mencintai seorang hamba dengan istighfarnya, maka hal pertama yang Allah I lakukan kepada hamba tersebut bukan dengan memberikannya dunia, namun dengan mengampuni dosa-dosanya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah I:
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah saw.), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imroon: 31)
Ibnu Qoyyim pernah berkata: “Jikalau kamu mempunyai waktu yang sedikit untuk berdoa namun permohonanmu sangat banyak, maka dahulukanlah istighfar. Karena dengan istighfar cinta Allah I turun, bilamana Allah I sudah mencintai hamba tersebut; jangankan minta sebelum minta saja sudah diberikan”.
Ya. Bahagia terletak di dalam dada ketika engkau bersimpuh dihadapan Tuhanmu sebagai seorang hamba, mentaatinya dan menghinakan diri kepadaNya. Karena seorang muslim hakiki ia berkeyakinan bahwa Allah Maha Adil terhadap hambanya. Allah tidak akan pernah berbuat dzolim. Allah akan memberi dan mmencabut (nikmat) kecuali untuk kemashlahatan hambaNya. Karena pada asalnya kebahagiaan di tangan Allah, kita tidak akan pernah meraihnya kecuali dengan mentaatinya. Sehingga, tidak ada kehidupan yang baik kecuali dengan melaksanakan seluruh perintah-perintahNya pada waktunya. Dengan itu, kita mengharapkan perjumpaan denganNya.
Sobat muda, seorang muslim sejati akan menjaga perbuatan dan pergerakannya lalu menimbangnya sesuai timbangan syariat. Sehingga, tidaklah ia berbuat kecuali yang diridhoai Tuhannya dan tidaklah ia berkata kecuali yang disukai Tuhannya. Dan hendaklah ia mengintropeksi dirinya terhadap apa saja yang sedang menimpanya berupa musibah maupun cobaan dari Allah, dan ia pun ingat bahwa musibah itu baik baginya. Allah Swt. berfirman :
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali’. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhanmu dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S al Baqarah: 155-156)
Dan sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. : “Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah kebaikan untuknya dan tidaklah hal itu didapati kecuali untuk seorang mukmin saja. Apabila ia diberi kebahagiaan ia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Dan apabila ia ditimpa musibah/kesulitan ia bersabar dan itupun kebaikan baginya. (H.R Muslim)

Dan hal serupa juga disabdakan Rasulullah Saw. : “Aku takjub terhadap (perkara) seorang muslim. Apabila ia ditimpa musibah ia intropeksi diri dan sabar, dan apabila ia diberi kebaikan ia memuji Allah dan bersyukur. Sungguh seorang muslim akan diganjar (mendapat pahala) pada setiap perbuatan/perkara sampai suapan yang disodorkan ke dalam mulut”. (H.R Thoyalasi dan Baihaqi).  F2d.

Selasa, 13 Juni 2017

Risalah Cinta untuk Ayah dan Bunda

Bismillahirrahmanirrahim
Duhai Ayahanda dan Ibundaku. Ini adalah risalah cinta dari anakmu. Sebuah risalah yang menggambarkan betapa aku mencintaimu. Cinta yang kurasa tulus dari lubuk hatiku. Kawajibanku adalah untuk mentaatimu. Menuruti apa yang menjadi titahmu. Hingga bilamana aku mendapatkan ridhomu; disitulah baktiku kepadamu. Namun, ada beberapa perkara yang ingin aku ungkapkan dan ku sampaikan kepadamu. Bukan untuk mengajarimu, apalagi mengguruimu. Tidak ayah, tidak wahai ibuku. namun ini adalah permohonan dariku sebagai anakmu. Yang aku berharap, semoga engkau mendengarkannya.
Duhai Ayahanda dan Ibundaku, Lindungilah aku dari api neraka. Jagalah aku dari gemerlapnya dunia. Ajarkanlah aku ilmu agama; yang dengan nya aku akan bahagia, baik di dunia maupun saat berjumpa denganNya. Beritahu aku ketika aku salah, tuntunlah daku kepada yang diridhoiNya lalu ingatkanlah aku dikala ku lupa. Berikanlah aku ridho darimu karena aku tau ridho orang tua adalah ridho Allah swt.
Wahai Ayah, Bukankah Allah telah berfirman:
"Jagalah Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka."
Dan bukankah Rasulullah saw telah bersabda:
“Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang amir (raja) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya. Dan istri pun pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya. Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari)
Juga sabda Rasulullah saw,
“Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya. Apakah ia pelihara atau ia sia-siakan, hingga seseorang ditanya tentang keluarganya.” (HR. An-Nasa’i)
Salahkah aku ayah, bilamana aku berjumpa dengan Tuhanku dan Ia bertanya penyebab aku masuk ke neraka; lalu aku jawab: ALLAH….. dahulu aku tidak pernah diajarkan shalat, aku tidak pernah diajarkan untuk menutup aurat, aku tidak tahu mana yang halal dan mana yang haram. Hidupku penuh dengan fitnah dan dosa. Hari-hariku diperlihatkan oleh pemandangan yang tak pantas. Hidup terlunta-lunta dengan dosa dan kemaksiatan. Tidak ada yang kutahu kecuali gemerlap dunia yang fana.
Wahai Ibu, inilah aku anak terkasihmu. Putra-putri yang kau harapkan kebaikan atas dirinya. Putra-putri yang haus akan pendidikan dan pengajaran. Engkaulah madrasah ku wahai Ibu. Tingkah lakumu tidak lepas dari mataku dan tabiatku adalah untuk mengikutimu. Mulutku akan terbiasa mengatakan apa yang ku dengarkan darimu. Janganlah engkau katakana perkataan kasar kepadaku. Atau jangan lah engkau mengutukku karena lisanmu adalah doa untukku.
Berhati lembutlah wahai ibu. Lalu ajarkan aku perkataan yang benar dan tingkah laku yang terpuji. Bersabarlah wahai ibu, karena bisa jadi, aku khilaf dan berbuat salah kepadamu. Bukalah hatimu buat anakmu. Ajarkan aku untuk berbakti kepadamu. Dan beritahu aku bahwa tugasku adalah untuk membahagiakanmu.
Wahai Ibu, kenakanlah aku pakaian yang menutup auratku. Tutuplah kepalaku. Hiasilah mahkotaku dengan kopiah ataupun hijab yang melindungiku. Ajarilah aku akhlak Nabimu. Beritahu aku bahwa dialah idolaku. Lantunkanlah di telinga ku ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits nabi saw. Dan jauhkanlah aku dari durhaka kepadamu.
Wahai ayah, jauhkanlah aku dari perkara syirik. Beritahu aku bahwa Allah swt adalah Tuhanku dan Rasulullah saw adalah Nabiku. Beritahu aku wahai ayah, bahwa Islam dibangun oleh 5 perkara. Beritahu aku, bahwa beriman kepada 6 rukun iman adalah keyakinanku dan kewajibanku. Beritahu aku wahai ayah, jalan yang lurus. Jalan yang diajarkan Rasulku dan menjadi jembatan menuju syurga Tuhanku.
Wahai Ayah, ajaklah anakmu ini shalat. Berdirikanlah aku di samping shafmu.  Perintahkanlah aku untuk mengikuti setiap gerakanmu. Bukankah Rasulullah saw bersabda: “Suruhlah anak kalian sholat ketika mereka berusia 7 tahun, dan kalau mereka sudah berusia 10 tahun dan masih meninggalkannya maka pukullah ia dengan pukulan yang mendidik” (HR. Abu Daud)
Wahai ayah, jadilah suri tauladanku. Jadilah pahlawan dan pembimbingku. Jadilah imamku di sepertiga malam terakhir. Ajarkanlah aku kalimat-kalimat dari Tuhanku. Beritahu aku perkara-perkara yang diajarkan agamaku. Dan jauhkanlah aku dari maksiat yang menjerumuskanku. Beri aku kemudahan dalam berbakti kepadamu dan memperoleh rahmat dan ridho Tuhanku.
Inilah risalah cinta dari ananda anakmu. Aku berharap, semoga Allah merahmati kalian berdua dimana pun kalian berada. Dan aku selalu berdua diantara sujudku, kiranya kita bertemu di Syurga Allah swt.
Allah swt berfirman:
Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.


Inilah potongan surat yang dituliskan oleh seorang anak kepada kedua orang tuannya. Dan kita berdoa kepada Allah swt, agar bisa berkumpul dengan orang-orang terkasih kita di syurga kelas. Dan kiranya Allah swt menjauhi kita semua dari api neraka. F2d

Untukmu yang Terasing

Islam adalah satu-satunya agama yang Allah turunkan lagi diridhoi di muka bumi. Islam adalah agama yang paripurna; yang di dalamnya dijelaskan segala aspek kehidupan dunia dan akhirat. Islam tidak memiliki cacat ataupun aib. Kehadirannya di muka bumi sebagai cahaya ketenangan, keamanan, ketentraman dan keselamatan. Tidak ada hati yang memiliki fitrah yang lurus kecuali akan condong kepada Islam.
Namun sangat disayangkan. Islam sebagai agama yang Allah ridhoi ditakdirkan untuk asing. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw: “Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti sedia kala. Maka keuntungan besarlah bagi orang-orang yang asing” (HR. Muslim)
Lalu, siapakah orang-orang yang terasing yang disabdakan oleh Rasulullah? Apakah orang-orang yang tidak lagi memiliki sanak keluarga? Atau apakah orang yang tinggal jauh di tengah hutan belantara yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian? Atau orang-orang yang mengemis di jalanan yang meminta pertolongan kepada setiap orang yang lewat dihadapannya? Orang-orang yang terasing adalah orang-orang yang disabdakan oleh Rasulullah: “Maka keuntungan besarlah bagi orang-orang yang asing. (yaitu) orang-orang shalih yang hidup berdampingan dengan mayoritas orang-orang buruk. (ketika itu) orang yang bermaksiat kepada Allah lebih banyak daripada orang yang mentaatiNya” (HR. Ahmad)
Keterasingan adalah sebagaiman yang dirasakan oleh sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash yang pergi menjauh dari pertikaian antara Ali dan Muawwiyah. Keterasingan adalah hal yang dirasakan oleh Imam Ahmad ketika ia harus dipenjara dan disiksa oleh 3 khalifah pada masanya hanya karena Ia mengatakan Alquran adalah Kalamullah. Keterasingan adalah apa yang dirasakan oleh Sufyan at Tsaury ketika ia bertemu dengan kafilah dari negri yang jauh; lantas ia pun berkata: “Sampaikanlah salamku kepada siapa saja yang berpegang teguh terhadap Alquran dan Sunnah, karena saat ini aku tengah merasakan keterasingan Islam.” Keterasingan tersirat dari ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika ia harus rela meninggal dunia di dalam penjara, lantas iapun berkata: “Apa yang bisa dilakukan musuhku terhadapku? Sesungguhnya kebahagiaanku ada di dalam dadaku. Bila kalian mengusirku, maka pengusiran tersebut bernilai tamasya bagiku dan bila kalian memenjarakanku maka pemenjaraan tersebut bernilai khalwat (untuk menenangkan pikiran dan ibadah).”
Kuantitas tidak selamanya menunjukkan bahwa itu merupakan kebenaran atau kebaikan. Kuantitas bukanlah tolak ukur yang dengannya kita bisa memvonis segala sesuatu. Ibnu Mas’ud berkata: “Jama’ah adalah siapa saja yang mengikuti kebenaran (berdasarkan Alquran dan Sunnah sebagaimana yang dipahami Salafus Saleh) meskipun kamu sendirian. (Jika memang engkau demikian adanya), Maka ketika itu kamu disebut Jama’ah” Allah swt berfirman: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’am: 116) Dan inilah konsep Iblis dalam menyesatkan anak cucu adam “Dan Engkau (Allah) tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur” (Qs. Al A’raf: 17) Oleh sebab itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa shalat hukumnya tidak wajib hanya karena kebanyakan orang tidak sahlat. Kita tetap tidak boleh kufur, meskipun nantinya tidak ada satupun orang mukmin di dunia ini.
Maka ikutilah kata hatimu dan tuntutlah ilmu. Jika kamu tidak memiliki banyak waktu luang karna berbagai kesibukan, paling tidak kamu harus tahu apakah amal ibadahmu selama ini sesuai sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah atau tidak. Jadilah muslim yang intelek lagi kritis. Gunakanlah Alquran dan Sunnah sebagai pedoman dan Shalafus saleh sebagai panutan. Pelajarilah agama ini dari sumbernya. Hauslah akan Ilmu agama dan irilah pada para ulama. Jagalah amalan-amalan wajib lalu hiasilah ia dengan amalan sunnah semampunya lalu pastikan bahwa seluruh amalanmu sesuai dengan yang diajarankan Rasulullah.
Lalu akankah kita harus takut bilamana kita termasuk kedalam orang-orang yang terasing atau apakah kekuatan orang-orang terasing akan sirna dari muka bumi.  Dengarkan dan renungilah kabar gembira yang dibawakan oleh Baginda saw. untukmu : “Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka hingga keputusan Allah datang” (HR. Muslim)
Sadarilah saudaraku, berapa banyak orang yang kusut bajunya, berantakan penampilannya, ia asing diantara penduduk dunia, namun apabila ia angkat tangannya tidak ada pilihan kecuali Allah swt pasti akan mengabulkannya. Ia cinta kepada tuhanNya maka tuhannya pun mencintainya. Maka, jadilah danau kecil di tengah luasnya padang pasir yang gersang. Jadilah bulan purnama di dalam gelap gempita malam tanpa bintang gempitang. Jadilah penerang dikala lampu-lampu telah padam. Jadilah penolong dikala mereka menangis membutuhkan. Hargai jiwa dan dirimu; karena semakin minim kuantitas sesuatu menandakan semakin berharganya sesuatu tersebut; bagaikan butiran mutiara diantara luasnya samudera. F2d
Sumber:
Aqidah al Wasitiyyah Karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Taisir al Karim ar Rahman karangan Syaikh As Si’dy

Syarh as Sunnah karangan Syaikh Shalih al Fauzan

Minggu, 11 Juni 2017

Ramadhan Bulan Ampunan; Salam Cinta dari Allah 

Oleh: Febri Frandikha
Bulan Ramadhan identik sekali dengan ampunan. Hal itu bisa kita lihat dari banyaknya hadits-hadits Nabi r yang berbicara tentang bulan Ramadhan; selalu saja diiringi dengan ampunan dari Allah I. Bahkan hal itu terlihat sangat spesifik sekali; dimana Rasulullah r menyebutkannya berkali-kali, namun dengan waktu yang berbeda-beda. Lalu, tahukah anda sobat, apa maksud dari ampunan Allah I tersebut?
Hikmah besar kenapa Allah I selalu saja mengaitkan bulan Ramadhan dengan segudang ampunan adalah bahwa ampunan adalah tanda cinta dari Allah I kepada hambanya. Sehingga bilamana Allah I mencintai hambanya, maka hal pertama yang Allah I lakukan bukan dengan memberikan hamba tersebut kenikmatan-kenikmatan dunia. Hal yang pertama kali yang akan Allah lakukan terhadap hamba tersebut adalah dengan mengampuni dosa-dosa hamba tersebut. Loh, kenapa Allah I ampunkan dosanya, apakah tidak ada hal lain yang lebih baik daripada ampunan Allah?
Sobat, ketika Allah I memberikan ampunan kepada seorang hamba, maka ketika itu Allah I telah membuka pintu Surga untuk hamba tersebut. Karena tidak ada yang bisa memasukkan seorang hamba ke dalam Surga kecuali amal ibadahnya. Dan alangkah indahnya ketika kita berjumpa dengan Allah I hanya dengan membawa amal ibadah saja adapun dosa-dosa kita yang telah lalu, maka Allah I telah mengampuninya. Makanya Allah I berfirman: “ Allah akan mencintai kalian lalu akan Allah ampunkan dosa-dosamu" (QS. Ali Imran:31)
Diantara sabda Rasulullah r di bulan Ramadhan kemudian mengaitkannya dengan ampunan Allah I adalah motivasi dari Rasulullah r untuk bersungguh-sungguh dalam berpuasa di siang hari pada bulan Ramadhan. Rasulullah r bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala disisi Allah, maka akan Allah I ampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah juga memotivasi mereka yang mungkin belum sempurna beribadah di siang hari di bulan Ramadhan dengan sabdanya:
“Barang siapa yang melakukan shalat malam di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala disisi Allah, maka akan Allah I ampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian Rasulullah r memotivasi lagi dengan mengkhusukan ampunan Allah I pada malam lailatul qadr. Rasulullah r bersabda:
“Barang siapa yang melaksanan shalat pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala disisi Allah, maka akan Allah I ampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan juga motivasi Rasulullah r secara umum untuk bulan Ramadhan secara keseluruhan dengan sabda beliau r:
”...antara sholat lima waktu, antara Jum’at yang satu ke Jum’at yang lain dan antara Ramadhan yang satu ke Ramadhan yang lain, terdapat kafarat (penghapus dosa) diantaranya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” [HR Muslim].
Nah sobat, gimana? Sudah jelaskan bahwa ampunan dari Allah di bulan suci Ramadhan menunjukkan salam cinta dari Allah I! Oleh sebab itu, selayaknya kita sebagai seorang hamba untuk menjemput cinta yang tak tertolak itu. Cinta dari Dzat sang pemilik cinta. Jangan sampai loh, bulan Ramadhan yang penuh berkah ini melewati kita begitu saja namun kita sama sekali tidak mendapatkan ampunan dari Allah I sedikitpun. Naudzubillah. Padahal sobat, malaikat telah melaknat orang-orang yang bertemu dengan bulan suci Ramadhan namun dosa-dosanya tidak terampuni sama sekali. Bahkan, Rasulullah r sendiri yang mengaminkan doa malaikat tersebut. (HR. Al-Baihaqi)

Oleh sebab itu sobat, mari kita berintropeksi diri dalam menghadapi bulan Ramadhan kali ini. Berusaha secara maksimal untuk meningkatkan kualitas ibadah kita di bulan suci, kemudian menjaganya agar tetap awet dan jauh dari hama. Hingga bilamana Ramadhan telah berlalu ibadah kita tidak berkurang dan konsisten seperti dulu. Selamat menjalankan Ibadah di bulan suci Ramadhan sobat! F2d.

Sabtu, 10 Juni 2017

Jilbab dan Ajang Kecantikan


Rasulullah r bersabda : “Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan mengitarinya. Dan tidaklah ia lebih dekat kepada Allah I (ketika shalat) melainkan di dalam rumahnya”. HR. Tirmidzi no. 1173
Sobat Muda, Islam dengan kesempurnaan syariatnya sangat memuliakan seorang wanita. Dan salah satu bentuk penghormatannya adalah dengan memerintahkan wanita muslimahnya untuk menggunakan jilbab sebagai penjagaan diri dari lelaki asing yang memandangnya. Namun apa jadinya, ketika jilbab dengan ciri khas sebagai penutup aurat kini malah berambil alih menjadi bahan untuk menampakkan aurat dan kecantikaan? Bahkan sudah tidak asing lagi bila kita mendengar bahkan menyaksikan seorang wanita muslimah dengan jilbab minimnya berlenggak-lenggok diatas catwalk demi sebuah ajang kecantikan dengan alasan bahwa ini adalah sebuah fashion dan hak seorang wanita untuk tetap terlihat cantik meski dengan jilbabnya.
 Syaikh Nasiruddin Albani berkata: “Tujuan diperintahkannya (memakai) jilbab (bagi wanita) adalah untuk menutupi perhiasannya, maka tidak masuk akal jika jilbab (yang dipakainya justru) menjadi perhiasan (baginya). Hal ini, sebagaimana yang anda lihat, sangat jelas dan tidak samar”.
Beliau juga berkata: “Karena tujuan dari memakai jilbab adalah supaya tidak timbul fitnah, yang (demikian) ini hanya dapat terwujud dengan (memakai) jilbab yang longgar dan tidak ketat, meskipun menutupi kulit akan tetapi membentuk postur tubuh wanita dan menggambarkannya pada pandangan mata laki-laki. Ini jelas akan menimbulkan kerusakan (fitnah) dan merupakan pemicunya. Oleh karena itu, (seorang wanita) wajib (menggunakan) jilbab (pakaian) yang longgar.
Diantara hikmah besar disyariatkannya memakai jilbab bagi wanita ketika keluar rumah adalah untuk menutupi kecantikan dan perhiasannya dari pandangan laki-laki. Bahkan Apabila kita sedikit memutar sejarah maka akan kita dapati bahwa sebab pensyariatan jilbab adalah agar seorang muslimah tidak diganggu dan sebagai pembeda antara seorang budak atau wanita merdeka, antara wanita kafir dan wanita muslimah. Namun apabila sebab ini kita jadikan sebagai sandaran hari ini, maka sangat sukar bagi kita untuk membedakan antara wanita muslimah dan wanita kafir. Antara wanita yang tidak ingin diganggu dan wanita yang berharap untuk diganggu. Dan penggunaan jilbab sebagai perhiasaan untuknya sangat jelas menunjukkan bahwa wanita tersebut mengharapkan agar dirinya diganggu. Dan tentu saja hal ini sangat tidak kita inginkan bahkan sangat tidak pantas bagi seorang muslimah untuk berlaku seperti itu.
Sobat muda, Islam tidak melarang kaum muslimahnya untuk tampil cantik dan menawan. Bahkan dalam banyak hadits Allah dan rasulNya mengisyaratkan bagi seorang laki-laki untuk menikahi wanita yang cantik lagi memikat hati ban menjadikan mereka sebagai sebaik-baik perhiasan dunia bilamana mereka berada diatas ketaatan kepada Rabnya. Namun meskipun begitu, Islam juga memerintahkan kaum muslimahnya untuk menundukkan pandangannya, menjaga perkataan dan lisannya dan menutup auratnya kecuali untuk mahramnya saja.
Allah I. Berfirman : “Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera meraka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara-saudara mereka, atau para perempuan (sesama islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan.” (Q.S an Nur : 31) F2d.https://frandikhafebri.blogspot.co.id/

(Sumber: Jilbaabul Mar’atil Muslimah karangan Syaikh Nashiruddin Albani dengan tambahan)